kota tanjung pandan

kota tanjung pandan
pusat kota

Senin, 02 Mei 2011

sejarah kota tanjung pandan

dulu y tugu pusat bukan seperti ini melainkan dua tugu yang pertama tugu pahlawan yang berada didepan pusat pembelanjaan.dan tugu patung parang beserta ikan yang menjadi simbol dari pulau belitung.tapi akibat perubahan jaman,dinas pertamanan bersama pemda setempat.mengubah tuguh patung pahlawan menjadi tuguh batu satam yang dibawah nya terdapat air mancur.dan tugu patung parang beserta ikan yang dulu nya besar sekarang disulap menjadi kecil.dan juga pada sore hari sampai malam hari,banyak sekali muda mudi nongkrong,photo dll.karena kedua patung itu menjadi daya tarik bagi muda mudi untuk bersantai bersama teman"sambil melihat orang lalu lalang karena tugu patung itu berada dipusat perkotaan kota tanjung pandan....


Sejarah Kota Tanjungpandan

November 24th , 2008 → 5:04 pm @ // No Comments

Memperingati hari jadi Kota Tanjungpandan yang ke-171 tahun, yang jatuh pada 1 Juli 2011 ini, tulisan ini akan memaparkan sejarah kota Tanjungpandan termasuk yang sering dipertanyakan, mengapa Datuk Ahmad atau Tuk Mempawah menjadi ngabehi di wilayah Belantu dan Mengapa pula Depati KA Rahad atau Cakraninggrat ke-VIII memilih mau dimakamkan di Air Labu dekat Kembiri ?

Pada masa Cakraninggrat ke III (1696-1700), Wilayah Belantu juga diberi kewenangan oleh Depati KA Gending atau Ki Ganding kepada Tuk Mempawah atau Datuk Ahmad, seorang mubaliq Islam. kemudian pada tahun 1705, Datuk Ahmad diberi pangkat ngabehi dengan sebutan Ngabehi Suro Yudho.

Ketika beliau dari Malaka hendak pulang ke Kalimantan, karena angin ribut, perahu beliau berlindung di Teluk Gembira Belitung dan menjumpai penduduk daratan (pada masa itu penduduk pinggiran laut sudah ada; yang disebut urang Laut, penduduk daratannya di sebut Urang Darat).

Datuk Ahmad terkesan dengan bahasa penduduk daratan itu yang mirip bahasa penduduk semenanjung Malaya, namun kebanyakan penduduknya masih menganut agama tradisi yaitu animisme yang dipimpin oleh dukon kampong (adat tradisi ini adalah wewenang yang diberikan oleh Cakraninggrat ke II, Ki Mending atau KA Abdullah). Kemudian beliau menetap dan mengajarkan agama Islam di kawasan tersebut.

Itulah mengapa sebabnya Datuk Ahmad diberi kewenangan atau otoritas oleh Depati Cakraningrat ke III yaitu KA Gending untuk menjadi ngabehi. Dan diberi hak menjadi ngabehi di wilayah tersebut hingga turun-temurun. Ketika KA Bustam menjadi Depati Cakraninggrat ke IV, Datuk Ahmad termasuk seorang mubaliq yang disenangi oleh beliau karena ajaran Datuk Ahmad masih toleran dengan ajaran tradisi setempat, acara ritual perdukunan tak begitu “diharamkan” oleh Datuk Ahmad.

Pada Masa tersebut, Islam yang dibawa para mubaliq Pasai cenderung hendak memurnikan ajaran Islam yang sesungguhnya (Islam dari Jawa yang dibawa oleh Datuk Mayang Geresik atau Ki Ronggo Yudho sudah tak murni lagi ketika di turunkan kepada KA Abdullah atau Ki Mending, kemudian memberikan keleluasaan kepada para dukun untuk menjalankan hukum adat dan tradisi istiadatnya.

Langkah-langkah untuk mengIslamkan para dukun di ambil langsung oleh putra Mahkota KA Siasip yang semestinya beliau menjadi raja tapi beliau menolak dan tetap bertekad menjadi Penghulu Agama Islam). KA Bustam, meskipun sudah Islam, juga adalah penerus ajaran tradisi ramondanya (Ramonda KA Bustam, Ki Mending atau KA Abdullah belajar Islam dari Kakeknya Ki Ronggo Yudho atau Datuk Mayang Geresik yang berasal dari Jawa Timur.

Ki Mending atau Depati Cakraninggrat ke III, adalah raja yang mengendalikan sistem pemerintahan secara kebatinan atau mistis. Karena itulah beliau memberikan kewenangan kepada seluruh dukun untuk melaksanakan sistem hukum adat dan tradisi di tiap wilayahnya secara mistis) Fanatisme ajaran KA Abdullah atau KA Mending begitu kental menurun pada KA Bustam. Karena itulah, istri beliau“Putri Gunong Labu” (menurut cerita rakyat atau galor urang Belitong adalah turunan orang bunian atau bangsa Jin).

Setelah KA Bustam menjadi raja menggantikan Abangnya KA Gending yang wafat tahun 1700, di Pamanukan Jawa Barat (semestinya anak dari KA Ganding yang menjadi raja yaitu KA Siasip, tapi beliau lebih memilih jadi Penghulu Agama Islam, KA Siasip belajar pada mubaliq yang datang dari Samudra Pasai, KA Bustam kurang menyukai ajaran mubaliq dari Samudra Pasai, kemudian beliau mengusir salah seorang guru KA Siasip yaitu Syehk Said Yassin.

Selanjutnya pula membunuh Syehk Abubakar Abdullah atau Datuk Gunong Tajam) Dalam cerita lisan rakyat, Syehk Abubakar Abdullah yang bergelar Datuk Gunong Tajam atau Tuk Pasai adalah seorang sakti yang banyak memiliki murid yang terkenal sakti pula, salah muridnya adalah Tuk Kundo. Salah satu alasan mengapa Mubaliq tersebut dibunuh, adalah KA Bustam dianggap syirik oleh ulama tersebut karena beristrikan dengan seorang wanita bunian atau bangsa jin.

Seteleh KA Bustam Wafat, digantikan oleh anaknya yaitu KA Abudin (1740-1755) tapi kemudian dia berselisih dengan adiknya KA Usman. Dan KA Usman meminta bantuan dengan Sultan Palembang untuk menengahi masalah mereka, KA Abudin pun di tahan di Palembang dan kemudian menikah lagi dengan putri sultan Palembang. Atas jasa tersebut, KA Usman mesti mengirim upeti kepada Sultan Palembang pada setiap tahunnya. (Hubungan Depati Belitung dengan Sultan Palembang baru dibuka pada tahun 1755. berdasarkan catatan: Batavia Handelsblad pada Staatsblad Th.1879. No.45) KA Usman atau Cakraninggrat ke VI, memberikan kekuasaan wilayah kepada semua anak-anak KA Abudin atau ponakannya; yaitu KA Rantie masih menetap di Balok atau Dendang.

Sedangkan KA Gunong Kurung yang masih sedih mengenangkan pertikaian Ramonda dan pamandanya hingga ia memutuskan untuk bersemedi di gua naga tempat datuk Ki Mending bertapa (menurut cerita rakyat, KA Gunong kurung adalah seorang setengah jin yang menitis dari neneknya Putri Gunong Labu, beliau menguasai dan melindungi empat gunung atau mengurung empat gunung; Gunung Labu, Gunung Guda, Gunung Pedas, dan Gunung Petebu).

Sedang Adiknya yang bungsu, KA Munti diberi tanah atau wilayah baru di Lenggang Gantong dan berkedudukan di kawasan Gunong Petebu (Perenggu keluarga ini terkenal dengan sebutan Bangsawan Gunong Petebu). KA Usman menyingkir dari Balok kemudian mendirikan kota Cerucok hulu. Menurunkan anak yaitu KA Hatam, KA Luso atau KA ujud, Dan NA Busu (NA Busu kemudian Menikah dengan KA Munti, anak dari KA Abudin) maka hubungan kekerabatan pun semakin mengental.

Ketika Pada masa KA Hatam Depati Cakraninggrat ke VII (1785-1815) di Cerucok, terjadi kekacauan dengan masuknya antek-antek Inggris yaitu Tengku Akil dari Siak. KA Hatam mati dibunuh Tengku Akil (KA. Rahad diyakini adalah seorang turunan titisan Jin. Karena itulah, ia hanya bisa dibunuh jika kepala dan tubuhnya terpisah dari badan. Kelemahan inilah yang diketahui tengku Akil. Dan KA Hatam dikenal dengan julukan Depati mati tekerat kepala) Pada insiden itu, ananda KA Ancun yang sudah menjadi Panggawa (putra mahkota) juga tewas.

Yang selamat diantaranya adalah KA Rahad, KA Saleh dan beberapa adik perempuan mereka. Mereka semua delapan bersaudara tiga laki-laki dan lima perempuan. KA Rahad dan KA Saleh yang masih belum jadi Panggawa (putra mahkota). Dalam keadaan terluka mereka di selamatkan Pamandanya KA luso (KA Luso sudah memegang pimpinan di Gunong Petebu menggantikan Almarhum KA Munti) dalam pelarian mereka yang diburu orang-orang Tengku Akil, bersembunyi sementara di Tanjoeng Gunong (Kelak ketika ia menjadi Depati, tempat itu didirikan istananya) dan setelah cukup aman dia beserta adik-adiknya tinggal di Gunung Petebu. (Kelak, di masa pemerintahan KA Rahad wilayah ini meskipun jauh dari wilayah pemerintahan, ia tetap menjadi wilayah yang tak terpisahkan).

KA Luso (Panglima keris berhulu perak) berhasil mengusir Tengku Akil, kemudian dia berlindung dengan Belanda di mentok. Namun perlawanan di Bangka oleh Demang Singa Yuda dari Bangka kota dan Juragan Selan berhasil mengusir Tengku Akil. Setelah Kesultanan Palembang jatuh kepada Inggris tahun 1812 kemudian diserahkan kembali oleh Inggris kepada Belanda tanggal 20 pebruari 1817.

Tetapi Belitung baru diduduki Belanda pada 21 Oktober 1821, itu pun dengan perantara pasukan palembang yang di pimpin oleh Syarif Mohammad guna menyingkirkan para bajak laut atau Lanun yang berkuasa di seputar perairan wilayah Belitong, Setelah aman maka pada tahun 1822 mendaratlah Kapten De la Motte dengan seratus serdadunya di Tanjoeng Goenoeng.

De la Motte mendapat perlawanan dari pasukan KA Rahad dengan panglima perang adik sepupunya sendiri yaitu KA Jalil hingga De la Motte menyingkir ke bukit Tanjung Pendam dengan bantuan orang-orang Cina De la Motte membangun benteng di situ dengan bantuan orang-orang Cina (Orang-orang Cina yang bekerja menambang timah pada Depati KA Hatam dan setelah KA Hatam meninggal Parit-parit timah terlantar dan orang-orang Cina mulai diperkenankan membuka pemukiman di tepi Sungai Aik Seburik, pemukiman Cina ini menjadi penyangga antara Belanda dan Depati dengan demikian orang-orang Cina dapat leluasa hidup dalam dua wilayah kekuasaan) sedangkan benteng Tanjoeng Goenoeng dapat di Kuasai KA Rahad dan kemudian KA Rahad mendirikan tempat tinggalnya, dan inilah awal Kota Tanjung Pandan di buka oleh KA Rahad (Eks Kantor polisi lama Tanjung Pandan).

Syarif Mohammad yang menjadi “ujung tombak” Belanda, sudah tak mampu menundukkan KA Rahad hingga pada tahun 1824, ia dan pasukannya pulang secara diam-diam. Karena tak berhasil mengalahkan KA Rahad, pada tahun 1826 De la Motte digantikan oleh Assistent-Resident Bierschel dan kembali di kawal oleh Syarif Mohamaad dan pasukannya. Perlawanan pun terjadi hingga Syarif Mohammad melarikan diri ke Mentok tapi diam-diam diikuti oleh orang-orang KA Lusoh, dan Syarif Hasyim tewas di Mentok dan pada tahun itu juga Bierschel dipanggil kembali ke Mentok. Belanda cukup kewalahan atas perlawanan KA Rahad dan Pasukannya hingga kemudian Belanda mengangkat Syarif Hassim (Keluarga raja Lingga) untuk menundukkan KA Rahad, tetapi Syarif Hassim juga tewas dan di makamkan di sebelah penjara Tanjung Pandan. Kemudian Belanda mengangkat Mas Agus Assik dari Pulau Lepar tapi Mas Agus assik kemudian tak tahan juga berhadapan dengan KA Rahad dan pulang ke Pulau Lepar.

Pada tahun 1830, Pulau Belitong diserahkan Belanda kepada Syarif Hassan dari Palembang, tetapi pada tahun 1835 ia melarikan diri dan mengadukan tentang perlawanan Depati KA Rahad pada Resident Bangka di Mentok. Belanda kemudian mengirim tim ekspedidi ke Belitong yang dipimpin oleh Kolonel PC Riedel. Meskipun sikap Kolonel PC Riedel agak lunak dan mau mengajak KA Rahad berunding tapi KA Rahad tetap tak mau bertemu dengannya. P C Ridel pun mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak baik dari pihak keluarga raja juga dari rakyat.

Dan kesimpulannya, rakyat tetap menghendaki K A Rahad menjadi depati dan atas dasar itulah Belanda melalui Resident Bangka, De Haase dan asisten Resident, Bierscehel, kemudian menobatkan dan mengakui KA Rahad sebagai Depati Cakraninggrat ke VIII. Pada 1 Juli1838. Dengan diangkat dan diakuinya KA Rahad sebagai Depati maka dimulailah babak baru taktik Belanda untuk mencari dan menambang timah di Belitung serta mengamankan seluruh perairan laut Belitung dari ancaman lanun, dan masa ini juga seluruh pulau-pulau sekitar Belitung di kuasai oleh Depati KA Rahad.

Tahun itu juga KA Rahad membagi Wilayah Belitung menjadi enam distrik; Tanjung pandan, di pimpin oleh KA Saleh, Sijuk oleh ngabehi Djinal, Buding oleh ngabehi Awang, Badau oleh ngabehi Rachim, Belantu oleh ngabehi Deraip, Lenggang oleh KA Lusoh. Namun Distrik Lenggang dan Tanjungpandan disatukan karena dipegang oleh turunan sejati raja. Sebelum KA Rahad meninggal dunia tahun 1854, Beliau berpesan untuk di makamkan di Gunung Labu tempat asal Putri Gunong Labu. Tapi kemudian orang seperti tak mengenal adanya Gunong Labu. Orang hanya mengenal tempat yang namanya Air Labu. Kini Makam KA Rahad, ada di Air Labu dekat Desa Kembiri, Kawasan Belantu.(Idh) *Penulis adalah Direktur SAPIR INSTITUTE Bidang Lintas So


sial Budaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar